Kamis siang (24/1), Ardi (8 tahun) terlihat meringis menahan perih di
sudut dapur rumahnya, di RT 01/RW 5, Desa Moro, Kec Bonang, Kab Demak,
Jawa Tengah. Dia menahan lapar. Sejak berangkat sekolah sampai pulang
sekolah, belum sebutir nasi pun mengisi lambungnya. Sambil mengelus
perutnya yang keroncongan, murid kelas dua SD Negeri Moro ini memelas
kepada ibunya, Supiyah (41), yang sedang sibuk mencuci nasi aking:
”Piye Mak. Isih suwe, ra? Wetengku wis pereh ki.
(Bagaimana Bu, masih lama tidak? Perutku sudah perih nih).” Karena
nasi aking atau kerak nasi yang dikeringkan itu tak bisa cepat
terhidang untuk mengenyangkannya, Supiyah hanya bisa meminta anaknya
bersabar. ”Sabar yo Le. Ditinggal dolanan wae kono (Sabar ya Nak.
Ditinggal main dulu [sambil menunggu nasinya masak]),” katanya.
Nasi aking atau nasi daur ulang yang sedang dicuci Supiyah, masih harus dikukus. Waktu yang dibutuhkan sekitar tiga perempat jam. Itu baru nasinya. Belum menyiapkan lauk ikan asin. Tinggallah Ardi, anak ketiganya, yang untuk makan nasi aking pun harus ekstra sabar.
Karena tak lagi turun ke laut, pemasukan pun tak ada lagi
Keadaan kian mengimpit karena harga kebutuhan pokok pun melambung.
Baik itu beras, terigu, minyak goreng, maupun tahu-tempe. Sudah begitu, minyak tanah yang biasa dijadikan campuran bahan bakar kapal para nelayan, juga ikut-ikutan menghilang dan harganya meroket.
kata Supiyah kepada Republika, pekan lalu.
Meski menu makannya sudah menjadi nasi aking, mereka tetap harus membatasi konsumsinya. Supiyah dan keluarga hanya bisa makan dua kali sehari, siang dan malam. Tak ada lagi sarapan –bahkan dengan nasi aking sekalipun. Uang jajan untuk Ardi pun terpaksa dihapus dari daftar. Soal alasan menghemat nasi aking itu, Supiyah berujar, ”Siapa
yang tahu Mas, kalau persoalannya (paceklik –Red)berlangsung panjang dan tak memberi kesempatan untuk menghindar.’ ‘
Di wilayah RT 1/RW 5, sedikitnya ada 80 kepala keluarga (KK) yang terpaksa bermenu nasi aking. Seorang tetangga Supiyah, Mauzah (39), bahkan bernasib lebih mengenaskan.
Mauzah beruntung karena tetangga-tetanggany a mau mengulurkan bantuan.
Karena berbarengan dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, dampak paceklik tahun ini dinilai warga Moro sebagai yang paling parah dibanding paceklik yang pernah terjadi sebelumnya. ”Bisa makan nasi aking saja sudah sangat beruntung,” kata Mauzah.
Soal berkurangnya minyak tanah, Abdul Ghani (58), salah seorang pemilik pangkalan minyak tanah di Moro mengatakan jatah untuk pangkalannya sudah dikurangi dua pekan terakhir. Dia tidak menjelaskan alasannya. Jika biasanya dipasok tiga kali per pekan, kini hanya sekali per pekan.
Sekretaris Desa Moro, Maskani (40), mengatakan dari 1.168 kepala keluarga (KK) di Moro, 250 KK (21,4 persen) di antaranya mengonsumsi nasi aking. Jumlah jiwa yang mendiami Moro, kata Maskani, saat ini 6.174 orang. Sebanyak 1.499 jiwa di antaranya adalah nelayan dan keluarganya.
”Wilayah paceklik yang paling parah adalah RW 1. Setidaknya ada 80 KK warganya yang mengalami dampaknya. Sisanya tersebar di empat RW lainnya,” kata Maskani kepada Republika, beberapa waktu lalu. Maskani
mengatakan saat ini warga yang mengalami paceklik sangat membutuhkan bantuan pangan. Aparat Desa Moro telah meminta bantuan kepada pihak kecamatan. Dia berharap permohonan itu bisa segera diteruskan ke Pemkab Demak.